teks

EVERY CHILD IS SPECIAL,EVERY CHILD IS SMART AND EVERY CHILD MUST PLAY

Sabtu, 17 November 2012

PENGEMBANGAN SAINS PADA AUD BERKEBUTUHAN KHUSUS



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami kehadiarat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga makalah Pengembangan Sains AUD untuk Anak Berkebutuhan Khusus  ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya dalam memenuhi tugas Metodologi Pengembangan Sains AUD.
            Makalah  ini disusun sebagai tugas kelompok yang dalam Metode Pengembangan Basaha AUD.Makala ini berisi tentang pengembangan sains bagi anak penderita gangguan penglihatan,pengembangan sains bagi anak gangguan pendengaran dan pengembangan sains bagi anak penderita gangguan emosional.
            Terima kasih kami ucapkan kepada Bu Yaswinda M.Pd selaku pembimbing mata kuliah Metodologi Pengembangan Sains Untuk AUD,serta kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman yang banyak membantu dalam penyelesaian makalah ini.

                                                                                                                       
                                                                             Padang, 19 september 2012


                                                                                    Tim Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

1.1          Latar Belakang
Setiap anak berhak mengembangkan diri dan memenuhi kebutuhan dasarnya secara memadai. Setiap anak memiliki hak yang sama dalam bidang pendidikan dan pembelajaran, sehingga dapat memperoleh menfaat dari ilmu pengetahuan yang diperolehnya.Begitu pula dalam akses terhadap pemenfaatan teknologi, seni dan budaya.Kesempatan ini diberikan setiap warga negara indonesia. Sebagaimana dinyatakan dalam pasal 28 ayat 2 Amandemen UUD 1945 yang berbunyi : setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
Didasarkan UUD tersebut menunjukan setiap anak Indonesia mempunyai hak yang sama dalam pendidikan dan pembelajaran baik anak yang normal maupun anak yang berkebutuhan khusus, layanan dan pengembangan pembelajaran diberikan pada setiap anak pada setiap jejang pendidikan dari pendidikan anak usia dini sampai pada pendidikan tinggi. Dalam pendidikan anak usia dini berbagai pengembengan pembelajaran dilakukan untuk merangsang segala aspek perkembangan anak baik kognitif, afektif maupun psikomotornya.Pengembangan pembelajaran pada pendidikan anak usia dini mencapai  pada pengembangan atau pembelajaran Sains untuk anak usia dini.Karena pengembangan Sains mampu mengembangkan segala aspek perkembangan anak usia dini.
Pengembangan Sains pada anak usia dini diberikan pada setiap anak baik anak yang normal maupun anak berkebutuhan khusus.Karena berdasarkan UUD diatas anak mempunyai hak yang sama dalam pembelajaran, sehingga tidak membedakan anak dalam pendidikan meskipun anak mempunyai kebutuhan khusus.Sehingga yang perlu diperhatikan adalah bagaimana merancang pembelajaran yang tepat  untuk anak berkebutuhan khusus, sehingga aspek perkembangan pada anak usia dini yang berkebutuhan khusus dapat dikembangakan secara optimal.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mempunyai perilaku khusus karena adanya perbedaan fisik, emosional atau lainnya yang membuatnya perlu perlakuan khusus.Tapi dalam pembelajaran tidak perlu adanya pembatasan bagi anak yang berkebutuhan khusus, pembatasan yang seolah mengurangi pelayanan akan membuat anak merasa tidak mampu dan tidak percaya diri.Anak yang berkebutuhan khususpun dapat melakukan kegiatan yang dilakukan anak normal,tidak perlu dibatasi.Dan yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menyeting kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan anak, tanpa membatasi anak.Jika perlu anak dapat digabungkan dengan anak yang normal dalam kegiatan pembelajaran,penggabuangan ini dapat berdampak pada menanaman sikap yang baik pada anak yang berkebutuhan khusus ataupun anak yang normal.
 
Keterbatasan yang dimiliki pada anak usia yang berkebutuhan khusus, tidak menjadi penghalang dalam pengembangan Sains pada anak.Selanjutnya pengembangan Sains dapat memberikan perubahan perilaku pada anak yang berkebutuhan khusus.Anak yang berkebutuhan khusus dapat menjadi pribadi yang sama dengan anak yang normal dimana anak-anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak baik secara intelektual, emosional dan spiritualnya,sehingga anak dapat terjun didalam masyarakat tanpa dipengaruhi katerbatasan yang dimilikinya.
Dan yang menjadi fokus bagi guru anak usia dini adalah bagaimana pengembangan Sains anak berkebutuhan khusus atau mempunyai gangguan dalam pengembangan Sains dapat diperlakukan  secara wajar dan manusiawi terutama pada anak yang mempunyai ganguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan fisik motorik dan gangguan emosional.Sehingga dibutuhkan layanan pengembangan Sains yang tepat pada anak usia dini yang berkebutuhan khusus.
Layanan pengembangan Sains yang diberikan pada anak yang berkebutuhan khusus haruslah tepat, agar layanan tersebut dapat mengembangkan segala aspek perkembangan anak berkebutuhan khusus, baik aspek kognitif, afekif dan psikomornya.Sehingga anak yang berkebutuhan khusus dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.Oleh karenanya anak yang mempunyai gangguan penglihatan,  gangguan pendengaran, gangguan fisik motorik dan gangguan emosional perlu mendapat pengembangan Sains yang tepat sesuai dengan kebutuhannya dan dapat mengembangkan segala aspek perkembangannya.

1.2 Rumusan Masalah
  1.  Bagaimana bentuk pengenalan Sains pada anak
  2. Bagaimana pengembangan Sains pada anak penderita gangauan penglihatan
  3. Bagaimana pengembangan Sains pada anak penderita gangguan pendengara
  4. Bagaimana pengembangan Sains pada anak penderita gangguan fisik motorik
  5. Bagaimana pengembangan Sains pada anak gangguan emosional
    1.3 Tujuan
  1. Mengetahui bentuk pengenalan Sains pada anak
  2. Mengetahui pengembangan Sains pada anak penderita gangauan penglihatan
  3. Mengetahui pengembangan Sains pada anak penderita gangguan pendengara
  4. Mengetahui pengembangan Sains pada anak gangguan emosional 
 


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bentuk Pengenalan Sains pada Anak Usia Dini
            Pengenalan Sains untuk anak usia dini menutur Slamet Suyanto dilakukan untuk mengembangkan kemampuan berikut :
a.       Eskplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek dan fenomena yang ada dialam
b.      Mengembangkan keterampilan proses Sains dasar seperti melakukan pengematan, mengukur, menggunakan bilangan, dan mengkomunikasikan hasil pengamatan
c.       Mengembangkan rasa ingin tahu, senang, dan mau melakukan kegiatan, inkuiri dan diskoveri
d.      Memahami pengetahuan tentang berbagai macam benda baik ciri,struktur maupun fungsinya.
Berikut ini merupakan rambu-rambu yang dapat menjadi acuan dalam pembelajaran sains :
1. Bersifat konkrit
Benda-benda yang digunakan bermain dalam kegiatan pembelajaran adalah benda yang konkrit (nyata). Pendidik tidak dianjurkan untuk menjejali anak dengan konsep-konsep       abstrak. Pendidik sebaiknya menyediakan berbagai benda dan fasilitas lainnya yang diperlukan agar anak dapat menemukan sendirri konsep tersebut.
2. Hubungan sebab akibat terlihat secara langsung
Anak usia 5-6 tahun masih sulit menghubungkan sebab akibat yang tidak terlihat secara langsung karena pikiran mereka yang bersifat transduktif. Anak tidak dapat menghubungkan sebab-akibat yang tidak terlihat secara langsung. Jika anak melihat peristiwa secara langsung, membuat anak mampu mengetahui hubungan sebab akibat yang terjadi. Sains kaya akan kegiatan yang melatih anak menghubungkan sebab akibat.

3. Memungkinkan anak melakukan eksplorasi
Kegiatan sains sebaiknya memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda yang ada disekitarnya. Pendidik dapat menghadirkan objek dan fenomena yang menarik ke dalam kelas. Misalnya guru menghadirkan induk kucing dengan anaknya, atau ulat yang akan menjadi kepompong. Anak akn merasa senang memperhatikan perilaku dan perubahan yang terjadi terhadap binatang tersebut. Bermain dengan air, magnet, balon, suara atau bayang-bayang akan membuat anak sangat senang. Anak juga akan dapat menggunakan hampir semua panca indranya untuk melakukan eksplorasi atau penyelidikan.

4. Memungkinkan anak menkonstruksi pengetahuan sendiri.
Sains tidak melatih anak untuk mengingat berbagai objek, tetapi melatih anak mengkonstruksi pengetahuan berdasarkan objek tersebut. Oleh karena itu kegiatan pengenalan sains tidak cukup dengan memberitahu definisi atau nama-nama objek, tetapi memungkinkan anak berinteraksi langsung dengan objek dan memperoleh pengetahuan dengan berbagai inderanya dari objek tersebut. Oleh sebab itu sangat tidak tepat jika memperkenalkan anak berbagai objek melalui gambar atau model. Anak membutuhkan objek yang sesungguhnya.
5. Memungkinkan anak menjawab persoalan ”apa” dari pada ”mengapa”
Keterbatasan anak menghubungkan sebab akibat menyebabkan anak sulit menjawab pertanyan ”mengapa”. Pertanyaan tersebut harus dijawab dengan logika berfikir sebab akibat. Jika anak bermain dengan air di pipal lalu anak ditanya ”apa yang akan terjadi jika ujung pipa dinaikkan?”. Anak dapat menjawab, ”air akan mengalir melalui ujung yang lain yang lebih rendah.” tidak perlu anak ditanya ”mengapa jika ujung ini dinaikkan, air akan mengali ke ujung yang lebih rendah”? Hal itu tidak akan dapat dijawab oleh anak. Sering anak menerjemahkan pertanyaan ’mengapa” dengan ”untuk apa”, sehingga pertanyaan mengapa akan dijawab ”agar” atau ”supaya” .

6. Lebih menekankan proses daripada produk
Melakukan kegiatan eksplorasi dengan benda-benda akan sangat menyenangkan bagi anak. Anak tidak brfikir apa hasilnya. Oleh sebab itu guru tidak perlu menjejali nak dengan berbagai konsep sains atau mengharuskan anak untuk menghasilkan sesuatu dari kegiatan anak. Biarkan anak secara alami menemukan berbagai pengertian dari interaksinya bermain dengan berbagai benda. Dengan kata lain proses lebih penting daripada produk.

7. Memungkinkan anak mengunakan bahasa dan matematika
Pengenalan sains hendaknya terpadu ddengan disiplin ilmu yang lain, seperti bahasa, matematika, seni dan atau budi pekerti. Melalui sains anak melakukan eksplorasi terhadap objek. Anak dapat menceritakan hasil eksplorasinya kepada temannya (bahasa). Anak melakukan pengukuran, menggunakan bilangan, dan membaca angka (matematika). Anak dapat juga menggambarkan objek yang diamati dan meawarnai gambarnya (seni). Anak juga diajarkan mencintai lingkungan atau benda disekitarnya (budipekerti).

8. Menyajikan kegiatan yang menarik (the wondwer of science)
Sains menyajikan berbagai percobaan yang menarik seperti sulap. Anak-anak yang masih memiliki pikiran magis (/imagical reasoning) akan sangat tertarik dengan keajaiban tersebut. Misalnya air susu dicampur air sabun dan diberi tiga macam pewarna makanan, lalu diaduk. Dengan manmbahkan sedikit air soda, anak akan melihat air berbuih dan mengeluarkan gelembung seperti mendidih, menampilkan air warna warni yang menarik.
2.2 pengembangan Sains pada Anak Penderita Gangguan Penglihatan
            Anak yang mendapatkan gangguan penglihatan maksudnya adalah anak yang tidak mampu menggunakan indra penglihatannya untuk mengenali suatu objek.Anak penderita gangguan  penglihatan tidak perlu dirujukkan pada suatu kelas khusus,tetapi harus di pikirkan cara menanganinya,jangan lah anak tersebut di sisihkan karena yang bersangkutan tidak mampu mengikuti materi ,proses dan sikap sains atau tidak dapat di tumbuhkan kemampuan sainsnya melalui kurikulum sains.Anak –anak tersebut tetap harus difasilitasi kurikulum yang sama .muncul pertanyaan jika kurikulum tidak boleh di rubah apa yang harus di lakukan ? yang paling utama adalah memodifikasi peralatan dan bahan-bahan pembelajaran sains,sehingga anak yang terganggu penglihatannya dapat belajar bersama-sama mempelajari sains dalam kelas seperti anak normal.
Jika anak-anak normal di beri bahan bacaan sains ,baik fiksi maupun non fiksi secara memadai maka sebagai rasa tanggung jawab,anak yang terkena gangguan penglihatan perlu di beri kesempatan dan informasi yang sama dan perlu juga di kembangkan buku-buku bagi anak yang terkena gangguan penglihatan yang isi pesannya ekuivalen atau sama-sama dengan buku bacaan anak normal.Cara yang mudah di lakukan adalah dengan audio tape yang isinya adalah bacaan buku-buku anak normal.

A.    Strategi belajar bagi anak yang mengalami ganggguan visual
Dalam mendukung aktivitas belajar anak yang mengalami gangguan visual, guru sebaiknya memilih pendekatan yang tepat dalam pengajaran dengan memperhatikan empat pokok utama yang dibutuhkan dalam optimalisasi sisa penglihatannya yaitu; cahaya, kontras, jarak dan ukuran. Pendekatan yang bisa digunakan guru adalah “pendekatan stimuli penglihatan, pendekatan efesiensi penglihatan dan pendekatan pengajaran menggunakan sisa penglihatan” (Hosni, 2002).
Hosni (2002) menjelaskan keempat aspek yang dapat mengefesiensikan penglihatan dan memfungsionalkan lingkungan pada anak yang mengalami gangguan visual adalah :
1.      Aspek cahaya
a. sepanjang masih memungkinkan, manfaatkan cahaya alamiah yang datang dari luar melewati jendela atau genting kaca,
b. menyesuaikan posisi duduk dan kebutuhan cahaya anak yang mengalami gangguan visual dengan datangnya arah cahaya,
c. cahaya yang tidak sesuai dengan kebutuhan, membuat anak akan mengalami kesulitan dan tidak efesien menggunakan matanya dalam membaca serta cepat lelah bila disuruh membaca,
d. menghindari tempat duduk yang menghadap cahaya,
e. cahaya sintesis dapat digunakan apabila cahaya alamiah tidak mendukung,
f. cahaya sintesis seperti lampu listrik, harus memperhatikan pula tentang intensitasnya, arahnya, tidak membuat panas dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
2.      Aspek kontras
a. kekontrasan biasanya terlibat di dalamnya masalah warna,
b. kekontrasan berhubungan dengan warna latar belakang, makin menyolok perbedaan warna di antara objek dengan warna latar belakang makin tinggi tingkat kekontrasannya,
c. anak yang mengalami gangguan visual sering kehilangan objek bila objek tersebut berada di latar belakang yang sama atau sedikit berbeda warna dengan objek,
d. warna yang tidak memantulkan cahaya lebih dapat dilihat,
e. pengecetan warna ruangan (tembok, kusen, daun pintu dan jendela) yang memperhatikan aspek kekontrasan akan membuat anak yang mengalami gangguan visual merasa aman, aksesibel, dan fungsional di ruang tersebut.
3.      Aspek jarak
a. anak yang mengalami gangguan visual dapat melihat objek dengan jelas bila jarak antara objek dengan penglihatannya sesuai,
b. biarkan anak yang mengalami gangguan visual melihat objek sedekat apapun. Setiap anak yang mengalami gangguan visual mempunyai jarak sendiri untuk melihat objek,
c. bila objek yang akan dilihat terlalu jauh dengan posisi anak yang mengalami gangguan visual, maka dekatkan objek lihat tersebut.
4.      Aspek ukuran
a. suatu objek bisa terlihat oleh anak yang mengalami gangguan visual, tergantung dari ukuran objek tersebut,
b. pada sebagian anak yang mengalami gangguan visual, ukuran objek bisa terlihat lebih besar dan jelas bila didekatkan dengan matanya,
c. untuk bahan bacaan, ukuran huruf ditetapkan tergantung pada usia anak yang mengalami gangguan visual, untuk usia TK lebih besar ukuran hurufnya dengan usia kelas 1-3 SD, di atas usia kelas 3 SD ukuran hurufnya makin kecil.
Strategi lain membalajarkan sains pada anak terkena gangguan penglihatan tersebut adalah dengan buku-buku sain Braille:
a.       pelajaran dengan huruf timbul (System moon)
Pada tahun1847 Dr.willian moon menemukan cara menulis huruf timbul misalnya menuliskan huruf a tanpa di coter di tengahnya. Buku moon dihasilkan dengan cara mencetak timbulkan permukaan kertas dengan huruf moon.dengan cara terlebih dahulu mencetak timbulkan lempengan-lempengan dengan kalimat-kalimat yang sudah di susun.sistim moon memungkinkan anak tunanetra dapat belajar berbagai ilmu bersama dengan saudara-saudaranya yang dapat di lihat.
b.      huruf Braille
tanda-tanda yang diketemukan oleh Braille didasarkan atas penempatan titik-titik pada 6 posisi,tersusun vertical masing-masing 3 titik.

B.     Alat bantu untuk anak yang mengalami gangguan visual
Tarsidi (1999:19) “anak-anak penyandang ketunanetraan mungkin dapat terbantu dengan berbagai alat bantu low vision dan sebaiknya didorong untuk menggunakannya baik di rumah, di sekolah maupun ditempat bermain”. Alat-alat bantu tersebut adalah alat-alat proyeksi dan pembesar yang memberi kemudahan berupa lensa khusus, lensa ini dapat dijepitkan pada kacamata biasa atau dapat dipegang (kaca pembesar) yang sangat mudah digunakan dan bermanfaat untuk membaca bahan cetak.Pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual akan jauh lebih baik jika pembelajaran tersebut dilakukan dengan mengefesienkan penggunaan penglihatan (efisiency in visual functioning) seperti dijelaskan Corn (1986:99) “siswa low vision dimungkinkan belajar dengan berbagai pendekatan yang memaksimalkan penggunaan kemampuan penglihatannya. Efesiensi dalam penggunaan penglihatan disesuaikan dengan kemampuan penglihatan untuk mengerjakan tugas yang diingikan”. Pendekatan pembelajaran dengan menggunakan penglihatan bagi anak yang mengalami gangguan visual didasarkan pada model dimensi penggunaan penglihatan dari Corn (Corn’s model of visual functioning):

1.      Program stimulasi penglihatan (vision stimulation programs)
Program ini digunakan untuk menstimulasi anak yang mengalami gangguan visual yang memiliki sisa penglihatan sangat minim dan tidak berkembang dengan tujuan untuk menstimulasi sisa penglihatan siswa dapat terangsang.
2.      Latihan efesiensi penglihatan (vision efesiency training)
Latihan efesiensi penglihatan bertujuan untuk melatih anak yang mengalami gangguan vision agar dapat memfungsikan penglihatannya dalam situasi pendidikan dan interaksi dengan lingkungan.
3.      Pengajaran pemanfaatan sisa penglihatan
Pengajaran pemanfaatan sisa penglihatan adalah sebuah upaya untuk mengajari siswa memanfaatkan sisa penglihatannya dengan memberikan bantuan atau alat koreksi (kaca pembesar, dll) sehingga proses pembelajaran bagi anak yang mengalami gangguan visual dapat lebih efektif dengan memaksimalkan penglihatan yang masih dimilikinya.
Selain dengan alat-alat diatas itu pengembangan Sains pada penderita ganguan visual dapat dilakukan dengan peggunaan audio-tape,atau yang lainya.Dan bagi guru kemampuan memahami teknik-teknik multy sensory sangat dibutuhkan dalam pengembangan pembelajaran Sains agar pembelajaran tepat kepada anak dan dapat direspon secara efektif oleh anak.

2.3 pengembangan Sains pada Anak Penderita Gangguan Pendengaran
A. Pengertian anak penderita gangguan pendengaran
·         Pengertian anak dengan kerusakan pendengaran secara fisiologi
Kerusakan pendengaran secara fisiologi diartikan sebagai gangguan pendengaran yang timbul karena kerusakan fungsi-fungsi alat dengar.kehilangan pendengaran yang berat di klasifikasikan sebagai anak yang tuli dan anak yang mengalami kehilangan pendengaran ringan di tetapan sebagai anak yang menderita keras pendengaran.
·         Pengertian anak dengan kerusakan pendengaran secara pendidikan
Maksudnya adalah gangguan pendengaran yang di almi oleh anak yang menyebabkan anak tidak memiliki keterampilan dalam berkomunikasi dan keteranpilan lain yang dibutuhkan dalam proses pendidikan di kelas. 
Karakteristik utama anak terkena gangguan pendengaran adalah: Mereka dapat menangkap suatu maksud dengan baik melalui keterampilan membaca gerak bibir benutur atau pembicara atau yang di sajikan melalui symbol-simbol lainnya. 

B.     Penyebab Gangguan pendengaran 
Penyebab terjadinya gngguan pada anak berfariasi sifatnya di antaranya :
  1. Akibat bawaan sejak lahir
  2. Akibat penyakit disaluran pendengaran
  3. Amandel
  4. Adenoid(lemah pendengaran)
Bersifat temporal:
§  Akibat dari demam ,penyakit flu dan reaksi suatu alergi tiga lokasi masalah yaitu,
1.      kerusakan pada telinga luar, sebabkan karena kehilangan konduktif, yaitu kehilangan suara yang bergerak sepanjang jalan kecil konduktif.  Suara dapat terhalang dalam kanal auditori eksternal terhadap telinga luar oleh kesalahan pembentukan kanal itu sendiri. Akumulasi tahi telinga yang berlebihan, kehadiran benda yang masuk ke telinga dan tumbuhnya tumor pada terusan telinga
2.      Kerusakan telinga bagian tengah, disebabkan karena kehilangan konduktif yang biasanya lebih berbahaya dari pada kehilangan konduktif di telinga luar, umumnya disebabkan karena, otitis media yang merupakan infeksi pada telinga tengah yang melibatkan pembuluh Eustachio.
3.      Kerusakan telinga bagian dalam, disebabkan karena kerusakan cochle cacar air, infeksi bakteri, infeksi yang terjadi sebelum kelahiran dari penyakit rubella yang diderita oleh ibu, komplikasi saat kelahiran seperti bayi mengalami anoksia atau kekurangan oksigen dan efek samping pengunaan obat anti biotic yang tidak dikehendaki atau saraf pendengaran.
Pada orang dewasa, factor ketulian juga terjadi karena adanya gangguan pada telinga bagian dalam. Disebabkan, karena factor bunyi yang terlalu keras, kepala kena pukulan dan kemuduran fungsi telinga yang disebabkan karena sok.

C.    Strategi Pembelajaran Sains pada anak penderita gangguan pendengaran
Langkah pertama sebelum menuju pembelajaran sains terhadap anak terkena gangguan pendengaran adalah dilakukannya penyesuaian perilaku dari anak tersebut terhadap aktifitas sains sehingga anak siap mengikuti pembelajaran sains.setelah anak di rasakan siap kemudian dilakukan pemilihan metode yang di anggap paling tepat dan cocok.Ada banyak cara yang dapat di pilih dan efektif dalam mengembangkan pembelajaran sains untuk anak yang di maksud.cara yang di anggap produktif adalah dengan mengembangkan dan melatih pendekatan multi sensoriterhadap anak dalam mempelajari sains. Cara lainnya adalah dengan melalui kegiatan-kegiatan yang bervariasi,misalkan aktivitas anak di arahkan pada kemampuan menyampaikan idea tau gagasan melalui tertulis dengan menggunakan kartu-kartu tugas ,serta untuk aktivitas di luar kelas.aktivitas anak terkena gangguan pendengaran si arahkan pada explorasi sentuhan langsung pada objek atau fenomena yang di observasinya.Pada saat guru menyajikan materi sains atau arahan-arahan, mungkin dengan mendemontrasikannya (secara visual-gerak), disamping anak dapat mengamati materi, diupayakan anak dapat menangkap bahasa bibir atau gerak bibir dan ekspresi muka guru saat memprestasikannya.Kemampuan anak menangkap bahasa bibir dan ekspresi muka guru akan sangat berguna bagi anak dalam mengkomunikasikan materi sain yang diserapnya. 

D.    Perkembangan metode  pendidikan anak gangguan pendengaran 
1.      Metode isyarat 
Metode ini didasari oleh pandangan yang menyatakan bahwa sesuai dengan kodratnya bahasa yang paling cocok untuk anak tunarungu ialah bahasa isyarat. 
Keutungan metode ini: Sesuai dengan anak tunarungu yaitu dunia tampa suara, sesuai dengan kemampuan anak tunga. Ruang untuk menerima dan mengeluarkan pikiran-pikiran melalui lambing visual sesuai dengan bahasa ibunya. 
Kelemahan metode ini:Tidak efektif karena banyaknya isyarat yang harus dipelajari, tidak semua pengertian dapt di isyaratkan, keragaman isyarat sesuai dengan daerah dan kehendak pembuatan isyarat, dan membatasi anak tunarungu pada lingkungan yang dapat mengerti isyarat-isyaratnya.  
2.      Metode oral 
Dasar metode ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa anak tunarungu sebagai anggota masyarakat harus menyesuaikan diri kepada pola kehidupan di sekitarnya, termasuk bahasanya, didukung oleh pengalaman bahwa anak tunarungu mampu berbicara kalau mendapat perhatian dan latihan secara teratur. 
Keuntungan metode ini :Metode ini lebih menguntungkan dalam memperluas komunikasi anak dengan masyarakat sekitarnya dan dapat memungkinkan kegiatan belajar mengajar yang lebih sistematis. 
Kelemahan metode ini :Kelemahan utama terletak pada keterbatasan kemampuan anak tunarungu dalam menangkan dan mengeluarkan bahasa lisan.
Selain dengan metode diatas pengembangan Sains pada gangguan pendengaran dapat pula dilakukan dengan pendekatan multy sensory terhadap anak pembelajaran Sains.Serta dapat pula dengan melalui kegiatan-kegiatan yang bervariasi, dan penyajian pembelajaran secara visual-gerak.

2.4 Pengembangan Sains pada Penderita Gangguan Emosional
A. Pengertian gangguan emosional
Gangguan emosional di artikan sebagai ketidak mampuan anak dalam belajaryang tidak jelas oleh faktor kesehatan, intelektual, dan sensorik. Sejumlah anak menunjukkan prilaku yang merusak kemampuannya sendiri, sehingga perkembangan dirinya dan peran sosial menjadi terhambat. Permaslahan tersebut diakibatkan oleh banyak faktor. Bisa saja mereka kurang percaya diri, anak mudah takut, anak depresi, mempunyai sikap penentang atau karena mereka senang menghabiskan waktu sesuai kehendak hatinya. Gangguan tersebut merupakan alasan mengapa anak tidak dapat beraktivitas secara baik  dan wajar dalam pembelajaran  sains. Untuk mengetahui penyebabnya sebaiknya anak harus dibawa ke psikolog.
Aktivitas sains mempunyai fungsi terapi yang penting bagi gangguan emosional pada anak. Kegiatan sains yang dilakukan oleh anak akan mampu mengontrol luapan emosi pada anak. Caranya adalah dengan pembelian berbagai aktivitas yang bervariasi dan dapat dilakukan anak dengan penuh daya tarik yang mengundang anak untuk memanipulasinya dengan berbagai cara. Jika anak merasakan kesuksesan dalam kegiatan, maka akan tumbuh rasa percaya diri yang tinggi pada setiap kegiatan yang dilakukannya. Kita tidak perlu melakukan tindakan selalu mengarahkan perubahan emosi anak, yang penting adalah kita harus menciptakan kemampuan kondisi pembelajaran sains yang dapat melibatkan mereka secara wajar, sehingga anak merasakan manfaat dihargai oleh guru.
Tentu jenis gangguan emosi dapat di fasilitasi dalam kegiatan pembelajaran sains yang digabung dengan anak normal adalah jenis gangguan emosi yang masih dapat dikendalikan dan secara klinis dapat di kontrol melalui aktivitas yang diskenariokan oleh guru. Sedangkan gngguan emosional yang tidak terkendali akan mengganggu teman-temannya, sebaiknya difasilitasi dengan cara lain pula, misalkan tidak pada sekolah yang sama. Tetapi ingat, secara umum kita tidak bisa memilah – milah dari awal tentang tindakan perlakuan khusus yang kita lakukan. Jadi, sebetulnya cara terbaik adalah guru harus hati – hati menyimpulkan tentang prilaku anak, dan dalam melakukan  tindakan – tindakannya.  Karena tujuan dari tugas guru adalah mengembalikan anak pada perkembangan anak dan perolehan pengalaman belajar yang benar dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

B.Karakteristik umum dan khusus anak yang mempunyai gangguan emosional
Terdapat 3 karakteristik umum  yang nampak pada anak yang mengalami gangguan emosional ringan dan sedang :
1.      Hasil belajar anak rendah dibidang akademik
2.      Hubungan interpersonal anak yang miskin
3.      Anak memiliki harga diri yang rendah .
Dalam hasil belajar yang rendah, salah satu kesalahan konsepsi yang umum ialah bahwa anak dengan gangguan emosional adalah cerdas, termotivasi untuk berbuat dan sukses dalam sekolah. Meskipun konsepsi ini ada benarnya, kebanyakaan anak yang mengalami gangguan emosional ringan dan justru performansinya kurang pada tes intelegensi dan dalam semua bidang hasil belajar akademik jika di bandingkan teman sebaya mereka yang tidak mengalami gangguan emosional.Dari segi hubungan interpersonal yang miskin yang dialami anak dengan gangguan emosional, anak sering digambarkan sebagai anak blak – blakkan karena mereka kehilangan keterampilan sosial dan sfat kepribadian yang menyenangkan bagi orang lain, guru, orang tua, dan teman sebaya.Dari segi harga diri yang rendah anak dengan gangguan emosional seringkali memiliki perasaan yang kurang terhadap kebenaran diri dan konsep dirinya.
Sedangkan karakteristik khusus yang ditunjukkan oleh anak menurut Achen bach dan Edelbrock (1981) anak betindak kepada kaum muda dengan tidak hormat, menentang, tidak dapat konsentrasi, hiperaktif, pusing, menangis, meminta perhatian, kejam terhadap orang lain, merusak barang miliknya dan orang lain, tidak tunduk peraturan sekolah dan dirumah, mersa tidak bersalah, merasa tidak dicintai,merasa benar dan bertingkah laku marah. Karakteristik diatas menunjukkan perbedaan  yang berarti antara anak yang mengalami gangguan emosional dengan anak normal. 

C.    Strategi Pengembangan Sains pada gangguan emosional
Aktivitas Sains mempunyai terapi yang penting bagi ganguan emosional anak. Kegiatan Sains yang dilakukan akan mampu mengotrol luapan emosi anak tersebut.Caranya dengan memberikan aktivitas yang bervariasi dan dapat dilakukan dengan penuh daya tarik dan mengundang anak memanupulasi dengan berbagai cara.Kita tidak perlu melakukan tindakan yang selalu mengarah pada perubahan emosi pada anak, yang terpenting adalah kita harus mampu menciptakan kondisi pembelajaran Sains yang dapat melibatkan anak secar tepat dan wajar, sehingga anak dapat merasakan manfaat dihargai oleh kita.Sehingganya pembelajaran Sains dilakukan dengan berbagai akivitas kegiatan Sains yang penuh dengan penanaman nilai sikap yang dapat memberi dampak yang baik bagi anak. 

BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Pengembangan Sains pada anak usia dini yang berkebutuhan khusus dapat dilakukan dengan berbagai metode dan strategi tergantung pada keterbatasan yang dimiliki anak.Strategi dan metode pengembangan Sains dapat memberikan kebebasan pada anak yang mamiliki keterbatasan khusus tapi dapat melakukan kegiatan selayaknya anak normal tanpa ada pembetasan pembelajaran karena anak mempunyai keterbatasan.Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana merancang kegiatan, metode, sumber kegiatan dan alat yang akan digunakan pada anak berkebutuhan khusus sehingga dapat dikembangkan segala aspek perkembangan anak.
Pengembangan Sains pada gangguan pendengaran dapat dilakukan dengan huruf timbul (sistem moon), huruf Braile, atau dengan alat-alat yang dapat membantu dalam pembelajaran seperti audio-tape dan teknik-teknik multy sensory yang harus dikuasi oleh seorang guru.Pengembangan Sains untuk anak penderita gangguan pendengaran dapat dilakukan dengan metode isyarat, metode oral, pendekatan multy sensory dan dengan berbagai kegiatan yang bervariasi.Dan pengembangan Sains untuk anak dengan gangguan emosional dapat dilakukan dengan berbagai aktivitas pembelajaran Sains yang penuh dengan penanaman nilai sikap yang dapat memberikan dampak yang baik pada perubahan sikap anak.

3.2 Kata Penutup
            Demikian makalah ini kami susun untuk memenuhi tugas Metodologi Pengembangan Sains pada Anak Usia Dini, semoga ini dapat memberi manfaat dan kami mohon maaf bila dalam makalah ini terdapat kesalahan kata maupun penlisan.


DAFTAR PUSTAKA
Suyanto,Slamet.2005.Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.Jakarta.DEPDIKNAS          
Soekini,Ts Pradopo.1997.Pendidikan Anak-Anak Tuna Netra.Jakarta.DEPDIKKEB
Nugraha,Ali.2008.Pengembangan Pembelajaran Sains Pada Anak Usia dini.Bandung.JILSI foundation.
Sandrawinata,Emon.1997.Pendidikan Anak-Anak Tuna Netra.Jakarta.DEPDIKKEB
Hadis,Abdul.2006.Pendidikan Anak Berkebutuhan Autistik.Bandung.Alfabeta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar